Telkomedia

Switch to desktop Register Login

MVNO, mungkinkah di Indonesia?

Rate this item
(3 votes)

Dalam diskusi yang diprakarsai Indonesia ICT Institute, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Effendi melontarkan gagasannya agar operator fixed wireless access (FWA) yang berjaan dengan teknologi CDMA yang bekerja di frekuensi 800 MHz menggelar kerja sama mobile virtual network operational (MVNO).

 

MVNO pernah dilaksanakan antara Axis dengan XL Axiata, tapi hanya berjalan kurang dari setahun. MVNO juga dilakukan antara Esia dan Telkom Flexi di area DKI/Jabar/Banten dan di luar DKI/Jabar/Banten.


Sebenarnya apakah MVNO itu, MVNO adalah kerjasama pemanfaatan jaringan bersama antara dua atau lebih operator telekomunikasi. Kerja sama semacam ini biasanya dilakukan antara operator yang belum luas infrastrukturnya dengan operator lama.

 

Dengan model MVNO ini, perusahaan penyedia layanan akan melakukan kerjasama dengan operator telekomunikasi bergerak yang ada melalui pola MOU ( minutes of use ), yakni pembayaran akan dilakukan berdasarkan lama penggunaan jaringannya, yang berarti juga lamanya penggunaan layanan komunikasi yang digunakan pelanggan.

 

Dalam MVNO, terdapat pemisahan tanggung jawab yang jelas antara penyedia jaringan ( network provider ) dengan penyedia layanan seluler ( service provider ).

 

Dengan begitu, penyedia layanan cukup membeli kapasitas jaringan, baik nantinya digunakan untuk komunikasi suara, SMS maupun komunikasi data yang berbasis teknologi tertentu, misalnya GPRS, EDGE atau CDMA EvDO dari penyedia jaringan.

 

Melalui kerjasama semacam itu, penyedia layanan dapat mengemas layanannya, tentu dengan merek mereka sendiri, untuk disampaikan kepada para pelanggannya.

 

Segmen pasarnya bisa sangat bervariasi sesuai dengan ceruk pasar tertentu yang dipandang potensial oleh masing-masing penyedia layanan.

 

Bisa berbasis cakupan geografis, kelompok pengguna tertentu atau suatu kawasan yang dianggap potensial. Tantangannya tidak saja bagaimana layanan itu disampaikan, melainkan bagaimana kemasannya, yang mungkin akan sangat spesifik atau customized .

 

Di Indonesia, kalangan operator belum banyak menunjukkan minatnya untuk memberikan opsi menjual sebagian kapasitas jaringannya untuk juga dimanfaatkan oleh perusahaan penyedia layanan lainnya selain menyediakan layanan kepada para pelanggan mereka.

 

Dalam MVNO, persaingan akan datang dalam hal layanan, diantaranya dengan memberikan nilai tambah tertentu, misal penanganan layanan pelanggan, kanal distribusi, dan lainnya.

 

Dengan begitu, keberhasilan MVNO lebih banyak ditentukan oleh posisi penyedia layanan yang mampu memberikan layanan yang baik, yang tidak jauh berbeda, bahkan dalam beberapa kasus lebih variatif dan menarik, dibandingkan operator yang memiliki infrastruktur jaringannya sendiri.

 

Namun, berbeda dari reseller pada umumnya, keberhasilan MVNO juga banyak ditentukan oleh merek yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, meski tak tertutup kemungkinannya bagi perusahaan-perusahaan baru, asalkan mampu memberikan layanan yang bermutu tinggi.

 

Dengan cara semacam ini, sesungguhnya operator jaringan akan lebih mampu meningkatkan penggunaan kapasitas infrastrukturnya, yang mungkin saja selama ini tak mampu dioptimalkan karena tak dapat menjangkau pasar-pasar tertentu yang eksklusif.

 

Meski di Indonesia pola MVNO ini belum berkembang, terutama karena operator seluler sendiri menganggap masih mampu mengoptimalkan sendiri revenue -nya melalui pengelolaan layanan, dan bahkan dapat bersaing di antara sesama operator.


Namun, ke depan, pola MVNO ini diperkirakan akan berkembang, bukan saja karena semakin banyaknya pengguna ponsel, melainkan karena kebutuhan yang lebih spesifik.

 

Beberapa perusahaan MVNO membangun infrastruktur “mobile Intelligent Network” guna memfasilitasi cara-cara untuk menyediakan layanan nilai-tambah.

 

Dengan cara ini, MNVO dapat memberikan layanan yang berbeda dan dibungkus dengan berbagai nilai lebih lainnya, sehingga dapat lebih kompetitif di pasar dan tidak hanya bersaing dalam harga, melainkan layanan yang bermutu tinggi.

 

Dalam beberapa kasus, seperti yang dikutip dari EbizAsia, MVNO dapat sepenuhnya mengontrol kegiatan penanganan kartu SIM, merek, pemasaran, penagihan dan bahkan pelayanan pelanggan.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran MVNO setidaknya akan memberikan dua manfaat bagi para operator jaringan. Pertama, MVNO akan memungkinkan operator jaringan menarik segmen pasar yang baru, sehingga akan mendorong optimalisasi kapasitas jaringan mereka secara lebih cepat.

 

Kedua, MVNO memungkinkan operator mengembangkan aspek pemasaran, penjualan, penagihan, hubungan dengan pelanggan dan meningkatkan hubungan serta efisiensi penanganan bisnis mereka.

 

Namun, di sisi lain, ada dua kerugian yang mungkin muncul. Pertama, MVNO dapat saja “mengkanibalisasi” pelanggan yang ada untuk kemudian tertarik untuk memperoleh layanan dari MVNO, dan bukannya operator pemilik jaringan.

 

Akibatnya, suatu MVNO mungkin saja semakin menyulitkan tenaga penjual yang telah ada sebelumnya di kalangan operator. Kedua, semakin meningkatnya kompetisi di pasar akan berdampak pada penurunan tarif, yang berarti akan semakin menekan margin yang bisa diperoleh para operator, begitu juga para MVNO lainnya.

 

MVNO diprediksi makin sulit dengan adanya kasus IM2. Penggunaan jaringan bersama antaroperator bisa dianggap Kejaksaan menggunakan frekuensi bersama, ini jadi berabe.(Telkomedia/api)(Gambar: technode.com)

Arif Pitoyo

Arif Pitoyo bergabung di Telkomedia sejak 2012. Telah menulis seputar perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi sejak 2003. Selain menulis, Arif juga menguasai regulasi telekomunikasi di Indonesia, kondisi industri, dan mampu menganalisanya sesuai perkembangan terkini. Hingga saat ini sudah ribuan tulisan Arif yang dipublish di berbagai media dan blog.

Twitter: @arifpitoyo

FB       : www.facebook.com/Arif Api

Email  : arifpitoyo@gmail.com

Website: www.arifpitoyo.com

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

-->

IndiPreneur Telkom jaring 501 UMKM

03-03-2013 Hits:1400 Telecom Arif Pitoyo

IndiPreneur Telkom jaring 501 UMKM

  JAKARTA: PT Telkom Tbk berhasil menjaring 501 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam program Indonesia Digital Entrepreneur (IndiPreneur) yang dirilis sejak 11 Februari 2013. Dari 501 UMKM tersebut, sebanyak...

Hak cipta (c) Telkomedia. All rights reserved.

Top Desktop version